Something about us

by Daft Punk

It might not be the right time
I might not be the right one
But there’s something about us I want to say
Cause there’s something between us anyway

I might not be the right one
It might not be the right time
But there’s something about us I’ve got to do
Some kind of secret I will share with you

I need you more than anything in my life
I want you more than anything in my life
I’ll miss you more than anyone in my life
I love you more than anyone in my life

🌸

I found this cover song on YouTube recommendation while ago. It’s such a guilty pleasure to me. I feel bad for listening to music again, for liking a certain song, yet I feel the urge to boast this epic cover of Daft Punk. I love the simple lyrics also. Enjoy the cover version.

Advertisements

Review: Web Series “Melamar” by HijabAlila

Pernah nggak kalian denger brand hijabAlila? Buat kalian yang belum tau, ini brand hijab punya ummu Alila alias istri dari Ustadz Felix. Selama ini aku cuma jadi fans postingan mereka aja, belum pernah jadi pembeli. Cuma bisa mupeng liat baju-bajunya tapi masih belum kesampaian buat beli satu. Semoga aja suatu saat nanti bisa beli. Aamiin. Hehe.

Nah, yang aku suka dari HijabAlila ini, mereka nggak hanya jualan baju aja, tapi mereka memasarkan jualan mereka lewat dakwah. Isi postingan dari akun-akun mereka, baik itu Instagram dan YouTube, selalu mendidik dan berdakwah tentang Islam dengan cara yang mudah sekali diterima. Salah satu usaha mereka yaitu lewat web series dengan judul “Melamar“.

Melamar

Jumlah Episode : 6
Durasi per episode : 6-7 menit
Rating : 5 out of 5 😀 soalnya sukses bikin saya mewek dan ngena banget.
Sinopsis :
Singkatnya ini tentang kehidupan Alila yang baru saja memendam rasa kepada lawan jenis, yaitu Zaki. Memiliki ketertarikan kepada lawan jenis itu adalah fitrah, apalagi bila kita menyukai orang tersebut atas dasar perilaku dan agama. Namun, tetap ingin menjaga diri dari perasaan yang ia miliki. Bagaimana kelanjutannya? Lihat sendiri lah ya, biar ga spoiler.. hehe.

My Personal Opinion

Mashaa Allah. Ini web series yang singkat, padat, dan bermutu. Apalagi buat hati yang gampang baperan kayak saya ini. Astaghfirullah. Ada banyak hal yang saya pelajari melalui web series ini. Inget banget pas teh Musryifah bilang,

“… makanya cinta itu fitrah. gak papa. cinta bisa jadi salah kalau dipandu pada jalan yang salah dan bisa jadi mulia kalau di jalan Allah. By the way, rasa sayang, rasa cinta itu semua tidak termasuk dalam kebutuhan jasmani yang wajib dipenuhi, tapi masuk ke dalam gharizah atau naluri yang gak wajib dipenuhi. Tapi ya suka gitu , bikin galau. Makanya kalau gak mau galau perasaan kayak gini jangan dirangsang. Liatin dia, kepo, stalking, nonton film korea, ngomongin cinta-cintaan, jodoh-jodohin orang.. kuncinya, inget Allah.”

Gak ada yang salah dengan menyukai seseorang karena dia adalah hal yang manusiawi. Tapi bukan berarti ya perasaan itu dipupuk subur kalau masih belum menikah. Soalnya besar kemungkinan kalau perasaan yang dipendam itu akhirnya bertepuk sebelah tangan dan orang yang disuka ternyata bukan jodoh kita. Makanya lebih baik menjaga diri dari perasaan yang belum semestinya.

Tapi buat menjaga diri itu juga gak gampang ya gaes. Buat saya khususnya. Pastinya ya pernah saya suka ke orang lain. Ya suka baper gitu soalnya saya sendiri yang bikin baper sendiri. Dari kepo keterusan stalking. Penyakit banget. Buat netralin hati ya butuh aksi yang pasti. Dan beneran rasa suka juga bisa hilang sendirinya. Toh ya belum tentu berjodoh.

Kuncinya, inget tujuan hidup. Perihal jodoh dan menikah itu tidak lain cara agar kita bisa terus menjaga diri dan cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Kalaupun belum menemukannya sekarang, berarti Allah pengen kamu atau saya sih (wkw) buat terus memperbaiki diri. Mencari tahu tentang agama lebih baik, memperbaiki sholat dan ibadah, menambah ilmu agama, dan yang terpenting lebih sering mendengarkan Allah, kenal dekat dengan Allah lewat Al Quran. Sudahkah AlQuran menjadi pedoman hidupmu? Sudah berapa ayat yang kamu jadikan pegangan? Sudahkah Al Quran mengetuk hatimu?

Astaghfirullah..

Allah, Allah, Allah..
Terima kasih atas karuniaMu ya Allah.
Terima kasih pula kepada HijabAlila yang selalu menjadi pengingat untukku dalam setiap usahanya.
Semoga Allah selalu meridhoi usaha HijabAlila 🙂
Semoga kita selalu dipertemukan oleh sahabat dan teman hidup yang selalu mengingatkan kita kepada Allah. Menuntun langkah kita mendekat kepada Allah sampai pada saatnya perjumpaan kita dengan Allah. Aamiin. Mashaa Allah. Aamiin ya robbal a’lamiin.

Kehilangan HP? Kalem dulu, terus coba lacak pakai Google Timeline

Pernah nggak kalian kehilangan HP sebelumnya? Nyesek gak sih? palagi kalau itu hasil tabungan atau jerih payah sendiri gitu ya. Rasanya sesuatu gitu hehe. Anyway, di awal tahun 2019 ini saya kehilangan HP waktu jalan-jalan ke Sanur, Bali dan alhamdulillah ini baru pertama kalinya saya mengalami kejadian ini. Dan karena kejadian ini saya jadi mendapat pelajaran berharga lah, tentang kehati-hatian dan juga harus melek teknologi hehe.

Kenapa sih kok harus melek teknologi?

Karena ternyata HP kita yang notabene smartphone itu bakal sesuai nama kalau penggunanya juga smart  memakainya.  Karena ada banyak fitur-fitur yang diberikan oleh pihak developer HP dan juga google untuk membantu kita dalam kehidupan sehari-hari tapi sayangnya sedikit sekali yang kita gunakan dan kita tahu kegunaannya. Ya seperti saya ini. Terlalu jadul, gaptek, cuek sama teknologi. Baru ngeh kalo butuh atau kejadian buruk terjadi, misal kehilangan HP. Salah satu fitur yang ditawarkan google yang sebenarnya cukup membantu mendeteksi keberadaan HP kita yaitu dengan google Maps timeline.

Apa itu Google Maps timeline?

Intinya disini kita bisa melihat tempat mana saja yang dituju oleh pengguna selama GPS dan email google masih aktif. Untuk menggunakannya juga mudah. Masuk saja ke google Maps kemudian pilih menu timeline. Muncullah rute-rute tempat yang pernah dikunjungi.  Iseng, saya mencoba melacak keberadaan mantan HP saya dengan google timeline. Dan inilah yang terlihat.

01

Ini hari dimana saya kehilangan HP saya.

2

Ini hari ini dan untuk terakhir kalinya saya bisa melacak HP saya karena sudah saya putuskan sambungan akun google pada HP tersebut.

Lihat yang kayak gini sebenernya saya merasa agak nyesek, karena meskipun tau keberadaannya dimana saya nggak bisa berbuat apa-apa soalnya udah di Bali sana. Jauh. Semacam ada rasa penyesalan alias gumun.. Maybe if I knew this feature, I could do something.

Mungkin dari pengalaman ini, pendidikan karakter yang saya dapatkan yaitu ya tentang kehati-hatian, kepekaan terhadap teknologi, dan juga kejujuran. Saya akui, saya ceroboh banget. Dan dari kecorobohan saya ini, ternyata keimanan orang lain juga diuji khususnya aspek kejujuran. hehehe.

Yah, gapapalah kehilangan HP, yang penting bukan kehilangan iman dan hidayah. Bahaya banget. Pengen juga sih nulis …asal bukan kehilangan kamu. Tapi masalahnya, kata “kamu” merujuk ke siapa? Heeyaaa. Alay. Yaudahlah. Sekian curcolan saya malam ini. Be carefull with your stuffs. Good night. 🙂

 

Book Review: The Time Keeper

the-time-keeper.jpg

I’ve got to send you back to your owner. Bye.

Title : The Time Keeper

Author : Mitch Albom

Published by : Hachette Books on September 4, 2012

Genres : Fiction, Fantasy, Inspirational

Pages : 222

My personal rating : 8 out of 10

Book Synopsis

“In Mitch Albom’s newest work of fiction, the inventor of the world’s first clock is punished for trying to measure God’s greatest gift. He is banished to a cave for centuries and forced to listen to the voices of all who seek more days, more years.

Eventually, Father Time is granted his freedom, along with a magical hourglass and a chance to redeem himself by teaching two earthly people the true meaning of time.

He returns to our world-now dominated by the hourcounting he so innocently began- and commences a journey with two unlikely partners: a teenage girl who is about to give up on life and an old businessman who wants to live forever. To save himself, he must save them both. And stop the world to do so.”

My thoughts

The Time Keeper is my second attempt into Mitch Albom’s books and it is inevitable not to compare it with his Five People You Meet in Heaven, the first book of him I’ve read. The tones of both books somehow are similar. The main figures were desperate people in my opinion, who were so lonely in their life yet they did not realize the affection their surroundings gave to them until the deaths came. The bizarre settings are also somehow alike too, the new realms related to the image of afterlife, the flashbacks and/or flash-forwards of accidents, and the heavenly-like nuances. These tones make us, the readers, ponder about life especially about those who live with us. They tell us to appreciate every moment we have and to think about others before our selfish thoughts.

However, The Time Keeper failed to exceed my expectation. I expected to get drawn into Albom’s world after reading Five People You Meet in Heaven. Yet, the ideas of the time story was quite prevalent to me that I felt like I’ve heard this before in some parts of the book. I had expected something more. Also I still do not understand about why Nim’s story was portrayed here. Was it to connect him with Victor? Then why should Sarah and Victor be chosen in the first place among millions people? Truthfully, I couldn’t feel the solitude and the voids in their stories to make them go further and to give up on their life. Compared to To Room 19, I could imagine the dark evil that played a trick and consumed Susan Rawlings’ mind though actually she didn’t even have problems in her people-assumed perfect life.

Despite my criticism, I still enjoyed reading this book because I like this kind of thoughtful readings. And I still look forward to the next foray into Albom’s books, Tuesdays With Morrie hopefully. (Is there anyone who wants to lend or even to give me this book? 😜)

Interesting Quotes

“It is never too late or too soon. It is when it is supposed to be.”
“With endless time, nothing is special. With no loss or sacrifice, we can’t appreciate what we have.”
“When you are measuring life, you are not living it.”
“But a desperate heart will seduce the mind.”
“There is a reason God limits our days.”
“Why?”
“To make each one precious.”

How we talk

One of the things I am always grateful for is that Allah has guided me into the path I am choosing now, learning and teaching English, a subject that used to be my nightmares during high school. As I have learnt this language, I feel like I can broaden my horizon and being capable of understanding new things, Nouman Ali Khan speech too is one of the light.

One of the striking khutbahs spoken by him is about how people should control their talk in their daily life. It might look nothing special about it, or maybe people think nothing is wrong in the words uttered (as sarcasm has been becoming a trend nowadays). Yet, through this episode, he has reminded me that such unconscous words with such tones, word choices, and discourses can probably hurt or somehow belittle my interlocutors if I don’t carefully think about their feelings or the situations they are in.

Another part of this episode that has made me fall in lies in the opening. The talk about that the Quran in our life is not only for information but something to ponder, to hold on, to be the core source of life’s needs and guidance has really enlighten me. Have I really read it or have I related it into my life? Have the words of Allah knocked my heart and led my path closer to Allah? How far has Quran been in me? I begin to ponder.

“Quran is not just information. The Quran is actually something that is supposed to plant itself inside our heart. So, its lessons and its teachings just like a plant that has to seed, has to go in the soil, then it needs water, it needs sun, it needs nourishment to be able to grow. The soil needs to be right for it to take life. So, it’s not just information you and I hear, or you and I read, and we move along. We have to take time to ponder it, internelize it, and really think about how it is going to take root in our heart and how it is going to change our thinking, our emotion, our behavior even.”
— Nouman Ali Khan

These series of episode are basically from the Surah Al Ahzab ayah 69 -71 and they mainly discussed about the human talk. With clear and contextual examples given in the episode also make them easily understood. I highly recommend his khutbahs and his channel as well for the depth of Quran. May Allah SWT always bless him and his dakwah. Amin.

“O you who have believed, be not like those who abused Moses; then Allah cleared him of what they said. And he, in the sight of Allah, was distinguished. O you who have believed, fear Allah and speak words of appropriate justice.He will [then] amend for you your deeds and forgive you your sins. And whoever obeys Allah and His Messenger has certainly attained a great attainment.”

Surah Al Ahzab Ayah 69-71

The Meeting

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Blowing wind in the midst of my solitude

alludes to one title that never have I met

Such a sinful soul needs assurances

upon the worthiness of me before Him

“Know Him by His names, O you who believe..

if you hope to meet Him when the time comes” prophet said.

***

This poem is basically my thought to the last surah of surah Al Kahf. At the last surah it is stated that if those believers want to meet Allah afterlife, they have to prostate to Allah only, do not relate in the worship of Allah anyone, and keep doing righteous deeds.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Say, “I am only a man like you, to whom has been revealed that your god is one God. So whoever would hope for the meeting with his Lord – let him do righteous work and not associate in the worship of his Lord anyone.”

Al Kahf – 110

Bapernya dan baperku. Kalau kamu?

Vi, aku lagi baper.” Tiba-tiba aja temenku bilang gitu ke aku. “Opoo? Liat manten anyar ta? Haha.” aku jawab enteng.

Iya sih, tapi aku lebih baper liat orang-orang yang sudah tua tapi masih mesra gitu sama pasangannya.” Aku juga ngerasa gitu sih. Kadang kalau lewat alun-alun ngeliat bapak-ibu sudah tua terus jalannya gandengan tangan gitu rasanya, aw! Terlepas nggandeng tangan itu maksudnya biar sang istri nggak tergoda belanja atau takut hilang, tetep aja sih sweet buat aku.

Si temenku melanjutkan, “Ada Vi, pasangan yang sudah sepuh terus si istri bilang gini ke suaminya… ‘Mas, nanti kalau kamu meninggal biar aku yang mandikan kamu ya.’ Bikin baper gak seh?” Tanyanya yang sebenernya pertanyaan retorika aja.

carl_and_ellie_by_frantastic1993-d9ox1py

Iya, sih. Sweet. Itu tandanya si istri bener-bener taat dan sayang sama si suami, merawat dan mengurusnya sampai akhir hayat. Itu jawabanku. Dan sampai di hari itu, bagiku hal yang bikin aku baper kukira kisah-kasih kakek-nenek yang masih setia sama lain. Semisal dalam film animasi “Up”, cerita antara Carl dan Ellie.

Keesokan harinya aku berkunjung ke rumah mbahku. Bersyukur, mereka masih hidup dan selalu mendoakanku dan anak-cucu mereka yang lain. Menyenangkan rasanya kalau sesekali mereka bercerita tentang masa lalu. Kalau si mbah kakung sering cerita tentang sejarah, baik itu tentang jaman penjajahan sampai tentang ketika peristiwa G30s PKI. Kalau mbah putri yang cerita beda. Agak baper dikit. Garis besarnya sih tentang gimana keras kepalanya mbah kakung milih mbah putri buat jadi istrinya.

“Aku gak gelem kawin nek gak mbe anake Pak Daim (aka mbah Putri).” Ucap mbah putri menirukan gaya mbah kakung. Haha. Ada-ada aja mbah. Anyway, yang mereka ceritakan sebenernya sama-sama tentang sejarah, cuma beda genre aja. Genre cowok dan cewek. Hehehehe.

Tapi kemaren akhirnya aku sadar ada hal lain yang bikin aku baper, liat orang hamil. Jadi kemaren aku dengar kabar kalau bulekku hamil. Seneng banget denger kabar ini. Gatau kenapa seketika aku ngerasa baper, pengen tau gimana rasanya ada nyawa lain dalam tubuh, gimana rasanya kalau ada mahluk kecil manggil kita “ibuk”. Kayaknya seru aja gitu, ditambah rewelnya yang mungkin bisa bikin stress hahaha. Dan aku baru sadar kalau kebanyakan orang-orang disekitarku juga lagi banyak yang hamil.

Terus aku inget kalau dulu pas aku masih kecil, aku pernah ditanyai kalau sudah besar pengen jadi apa. Disaat teman-teman sebayaku menjawab dokter dan guru, jawabanku justru pengen jadi ibu rumah tangga. Konyol sekali rasanya menjawab seperti itu. Karena secara kodrat, nantinya semua wanita ya jadi ibu rumah tangga. Tetapi justru belakangan ini, cita-cita naifku dulu justru jadi cita-citaku (prett) sekarang.

Aku masih ingat ketika sekitar sebulan yang lalu, seorang siswa, badannya kecil dan imut, mengetuk pintu kelas aku mengajar dan meminta ijin untuk menginterview.

Excuse me, Miss. Can I ask you some questions?” tanyanya dalam bahasa Inggris. Aku membungkuk dan menjawab, “Yes, you can. What are your questions?

What’s your dream, Miss?” 

Sontak aku ketawa kecil. Secara refleks aku menjawab, “I want to be a mom.” Langsung si anak mungil ini menatapku sebelum lanjut menulis. “What miss?” “Mom”. Bisa aku lihat dari ekspresinya kalau dia semacam ngerasa aneh. Masak jadi ibu itu cita-cita? Hahaha. Tapi beneran, aku juga nggak bercanda. Profesi apapun nanti nya yang aku pakai buat cari rezeki, aku rasa profesi yang bener bener pengen tak pelajari bener ya jadi ibu. Cuman sih kayaknya antara niat dan tindakan masih belum sinkron. Mehehe. Masih ngerasa sifat dan perilaku jauh dari kualitas seorang ibu yang baik. Ya mungkin emang gini caranya Allah, biar aku siap-siap dulu. Hahaha.