Kehilangan HP? Kalem dulu, terus coba lacak pakai Google Timeline

Pernah nggak kalian kehilangan HP sebelumnya? Nyesek gak sih? palagi kalau itu hasil tabungan atau jerih payah sendiri gitu ya. Rasanya sesuatu gitu hehe. Anyway, di awal tahun 2019 ini saya kehilangan HP waktu jalan-jalan ke Sanur, Bali dan alhamdulillah ini baru pertama kalinya saya mengalami kejadian ini. Dan karena kejadian ini saya jadi mendapat pelajaran berharga lah, tentang kehati-hatian dan juga harus melek teknologi hehe.

Kenapa sih kok harus melek teknologi?

Karena ternyata HP kita yang notabene smartphone itu bakal sesuai nama kalau penggunanya juga smart  memakainya.  Karena ada banyak fitur-fitur yang diberikan oleh pihak developer HP dan juga google untuk membantu kita dalam kehidupan sehari-hari tapi sayangnya sedikit sekali yang kita gunakan dan kita tahu kegunaannya. Ya seperti saya ini. Terlalu jadul, gaptek, cuek sama teknologi. Baru ngeh kalo butuh atau kejadian buruk terjadi, misal kehilangan HP. Salah satu fitur yang ditawarkan google yang sebenarnya cukup membantu mendeteksi keberadaan HP kita yaitu dengan google Maps timeline.

Apa itu Google Maps timeline?

Intinya disini kita bisa melihat tempat mana saja yang dituju oleh pengguna selama GPS dan email google masih aktif. Untuk menggunakannya juga mudah. Masuk saja ke google Maps kemudian pilih menu timeline. Muncullah rute-rute tempat yang pernah dikunjungi.  Iseng, saya mencoba melacak keberadaan mantan HP saya dengan google timeline. Dan inilah yang terlihat.

01

Ini hari dimana saya kehilangan HP saya.

2

Ini hari ini dan untuk terakhir kalinya saya bisa melacak HP saya karena sudah saya putuskan sambungan akun google pada HP tersebut.

Lihat yang kayak gini sebenernya saya merasa agak nyesek, karena meskipun tau keberadaannya dimana saya nggak bisa berbuat apa-apa soalnya udah di Bali sana. Jauh. Semacam ada rasa penyesalan alias gumun.. Maybe if I knew this feature, I could do something.

Mungkin dari pengalaman ini, pendidikan karakter yang saya dapatkan yaitu ya tentang kehati-hatian, kepekaan terhadap teknologi, dan juga kejujuran. Saya akui, saya ceroboh banget. Dan dari kecorobohan saya ini, ternyata keimanan orang lain juga diuji khususnya aspek kejujuran. hehehe.

Yah, gapapalah kehilangan HP, yang penting bukan kehilangan iman dan hidayah. Bahaya banget. Pengen juga sih nulis …asal bukan kehilangan kamu. Tapi masalahnya, kata “kamu” merujuk ke siapa? Heeyaaa. Alay. Yaudahlah. Sekian curcolan saya malam ini. Be carefull with your stuffs. Good night. 🙂

 

Advertisements

Twenty four into twenty five

379aca6c2844d82240be4f28a61b7add

I must say that my twenty four was a roller coaster. Changes happened in a fast speed. Sometimes I was at the peak and in a moment I was at the bottom. The changes were confusing, whirling around my head. They were startling, afraid of judgments and making me stay awake as the world became dark and silent, yet I had to learn to make decisions. To let things go or to embrace, to be selfish or to please others, to expect or to face things. But it took me by surprise that I was able to have the guts to check what was left behind, about the red flanel rose, though in fact I was waiting for nil.

It took me by surprise too that a picture came in the midst of my talk with Allah when I was at the peak of my confusion about whether to say yes or no and when I was down on my knees. In this chaotic mind, my curiosity did play a great trick. To finally ask such low questions to whom I put my dignity highly, I didn’t mind. To follow the feeds and to wait till twenty five came, I think I am done.

The day I turned into twenty five, I was happy to know that I had been through these. Knowing that a quarter of life might seem daunting, as many articles say, yet as long as I put everything to Allah, believe Allah in every step I take, and make decisions with the guidance of Allah, I don’t think I will be pretty much dazed. Twenty four has taught me that I had to be a healthy tree. I need to nourish my own self with worthy fertilizer so that my roots can reach the core, I have to water my own self so that my trunk can strongly stand without worrying the wind. I need to get my leaves shined so that I can produce clement air for others to breathe.

I want to be firm, strong, and fruitful.
I want to be beautiful.

My twenty four was a roller coaster, but I enjoyed its ride. My wish is that if you happen to be or on going process of becoming twenty four, may you can find your own path and follow what’s your heart leads you up to. May you can make wiser decision and not to postpone what you should do in the precise time. Lastly, may you find what makes you happy. Cheers!

Bapernya dan baperku. Kalau kamu?

Vi, aku lagi baper.” Tiba-tiba aja temenku bilang gitu ke aku. “Opoo? Liat manten anyar ta? Haha.” aku jawab enteng.

Iya sih, tapi aku lebih baper liat orang-orang yang sudah tua tapi masih mesra gitu sama pasangannya.” Aku juga ngerasa gitu sih. Kadang kalau lewat alun-alun ngeliat bapak-ibu sudah tua terus jalannya gandengan tangan gitu rasanya, aw! Terlepas nggandeng tangan itu maksudnya biar sang istri nggak tergoda belanja atau takut hilang, tetep aja sih sweet buat aku.

Si temenku melanjutkan, “Ada Vi, pasangan yang sudah sepuh terus si istri bilang gini ke suaminya… ‘Mas, nanti kalau kamu meninggal biar aku yang mandikan kamu ya.’ Bikin baper gak seh?” Tanyanya yang sebenernya pertanyaan retorika aja.

carl_and_ellie_by_frantastic1993-d9ox1py

Iya, sih. Sweet. Itu tandanya si istri bener-bener taat dan sayang sama si suami, merawat dan mengurusnya sampai akhir hayat. Itu jawabanku. Dan sampai di hari itu, bagiku hal yang bikin aku baper kukira kisah-kasih kakek-nenek yang masih setia sama lain. Semisal dalam film animasi “Up”, cerita antara Carl dan Ellie.

Keesokan harinya aku berkunjung ke rumah mbahku. Bersyukur, mereka masih hidup dan selalu mendoakanku dan anak-cucu mereka yang lain. Menyenangkan rasanya kalau sesekali mereka bercerita tentang masa lalu. Kalau si mbah kakung sering cerita tentang sejarah, baik itu tentang jaman penjajahan sampai tentang ketika peristiwa G30s PKI. Kalau mbah putri yang cerita beda. Agak baper dikit. Garis besarnya sih tentang gimana keras kepalanya mbah kakung milih mbah putri buat jadi istrinya.

“Aku gak gelem kawin nek gak mbe anake Pak Daim (aka mbah Putri).” Ucap mbah putri menirukan gaya mbah kakung. Haha. Ada-ada aja mbah. Anyway, yang mereka ceritakan sebenernya sama-sama tentang sejarah, cuma beda genre aja. Genre cowok dan cewek. Hehehehe.

Tapi kemaren akhirnya aku sadar ada hal lain yang bikin aku baper, liat orang hamil. Jadi kemaren aku dengar kabar kalau bulekku hamil. Seneng banget denger kabar ini. Gatau kenapa seketika aku ngerasa baper, pengen tau gimana rasanya ada nyawa lain dalam tubuh, gimana rasanya kalau ada mahluk kecil manggil kita “ibuk”. Kayaknya seru aja gitu, ditambah rewelnya yang mungkin bisa bikin stress hahaha. Dan aku baru sadar kalau kebanyakan orang-orang disekitarku juga lagi banyak yang hamil.

Terus aku inget kalau dulu pas aku masih kecil, aku pernah ditanyai kalau sudah besar pengen jadi apa. Disaat teman-teman sebayaku menjawab dokter dan guru, jawabanku justru pengen jadi ibu rumah tangga. Konyol sekali rasanya menjawab seperti itu. Karena secara kodrat, nantinya semua wanita ya jadi ibu rumah tangga. Tetapi justru belakangan ini, cita-cita naifku dulu justru jadi cita-citaku (prett) sekarang.

Aku masih ingat ketika sekitar sebulan yang lalu, seorang siswa, badannya kecil dan imut, mengetuk pintu kelas aku mengajar dan meminta ijin untuk menginterview.

Excuse me, Miss. Can I ask you some questions?” tanyanya dalam bahasa Inggris. Aku membungkuk dan menjawab, “Yes, you can. What are your questions?

What’s your dream, Miss?” 

Sontak aku ketawa kecil. Secara refleks aku menjawab, “I want to be a mom.” Langsung si anak mungil ini menatapku sebelum lanjut menulis. “What miss?” “Mom”. Bisa aku lihat dari ekspresinya kalau dia semacam ngerasa aneh. Masak jadi ibu itu cita-cita? Hahaha. Tapi beneran, aku juga nggak bercanda. Profesi apapun nanti nya yang aku pakai buat cari rezeki, aku rasa profesi yang bener bener pengen tak pelajari bener ya jadi ibu. Cuman sih kayaknya antara niat dan tindakan masih belum sinkron. Mehehe. Masih ngerasa sifat dan perilaku jauh dari kualitas seorang ibu yang baik. Ya mungkin emang gini caranya Allah, biar aku siap-siap dulu. Hahaha.

The Smiths – Ask

Shyness is nice, and
shyness can stop you
from doing all the things in life 
you’d like to

So, if there’s something you’d like to try
If there’s something you’d like to try
Ask me, I won’t say “No”, how could I?

Coyness is nice, and
coyness can stop you
from saying all the things in 
life you’d like to

Spending warm summer days indoors,
writing frightening verse
to a bucktoothed girl in Luxembourg

Ask me, ask me, ask me
ask me, ask me, ask me

Because if it’s not love
then it’s the bomb, the bomb, the bom,
the bomb, the bomb, the bomb, the bomb
that will bring us together

Nature is a language.
Can’t you read?
Nature is a language.
Can’t you read?

So, ask me, ask me, ask me
ask me, ask me, ask me

On Top of the Hill

​On top of the hill I’m standing,

watching and wondering

of all the blue and green

of the leaves hissing

of the branches dancing

of the diamonds floating

for how long will it be lasting?


On top of the hill I’m standing,

overlooking all things yonder

to find what I adore

to question the future

to interpret this metaphor

as a praise to the illustrator

of the earth and sky beyond


June 1, 2017


Mungkin Terdengar Basi, tapi Penipuan Lewat Telpon Masih Sering Terjadi

Malam ini keluarga saya ditimpa musibah. Orang tua saya terkena penipuan lewat telpon dan kami diminta untuk menstransfer uang senilai Rp 6 Juta ke sebuah nomor rekening yang diminta.

Berikut ceritanya.

Saat itu saya keluar bersama teman-teman saya dan tiba-tiba kakak saya menelpon dan menanyakan kabar orang tua saya dan dia menanyakan sebuah nomor, entah nomor siapa. Saat itu saya hanya bertanya

“Ada apa, Mas? Kamu di tipu ta?”

Tapi kakak saya hanya bilang tidak apa-apa dan meminta saya untuk pulang secepatnya. Ketika pulang, orang tua saya sedang tidak ada dirumah. Awalnya saya biasa, saya coba telpon kakak saya tapi telponnya sibuk terus, saya sms tidak dibalas-balas, intinya susah atau tidak bisa dihubungi. Seketika saya cemas dan banyak pikiran, takut sesuatu terjadi pada orang tua saya. Kemudian saya menemukan nomor telpon yang persis dengan nomor yang kakak saya tanyakan. Rasanya aneh, tapi cemas juga. Sampai akhirnya orang tua saya pulang dengan muka pucat. Ketara sekali kalau terjadi sesuatu.

Continue reading