Pizza Favorit di Jember

Sebenarnya saya enggak ada niatan buat menulis tentang makanan atau kasih review makanan gitu. Soalnya asli saya bukan tipe orang yang rajin-rajin banget kulineran. Baru kulineran kalau lagi diajak temen atau memang ada postingan makanan menggoda seliweran di feed Instagram baru deh penasaran.

Nah, baru baru ini ada satu tempat makan baru (tapi ya gak baru baru amat sih) di Jember yang dari awal udah mencuri perhatian lidah saya. Namanya Pizza Combi. Saya memang pecinta Pizza atau makanan makanan sebangsanya. Jadi pas yang mengajak makan pizza ya saya oke oke aja.

Dan ternyata jenis pizza disini enak banget, cocok lah buat lidah saya. Rotinya lebih tipis dari kebab jadi rasa topingnya lebih menonjol. Pertama kali saya mencoba rasa meat lovers dan itu enak. Hari ini saya datang lagi mencoba rasa white combi, something spicy gitu (lupa), Hawaiian, dan black paper. Enak cucok meong.

Kalau disuruh milih mana yang paling recommended saya bingung soalnya tiap rasa sama-sama enaknya tapi punya ciri khas yang berbeda aja. Oh iya, kalau kamu pesen pizza disini, kamu bisa pesan 2 macam rasa dalam satu pan pizza sekaligus. Yah lumayan, dan harganya juga masih terjangkau dan sesuai kok dilihat dari rasa pizzanya. Hanya saja,  yang kurang memuaskan bagi saya yaitu minumannya. Hehe. Kurang recommended. Saya lebih nyaman pesan cola aja soalnya minuman yang lain rasanya gitu gitu aja. Kurang sesuai sama harganya. 🙊

But definitely I will come back!

Advertisements

Hidup dan ajal

​وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٌ وَلَهۡوٌ‌   ۖ   وَلَلدَّارُ ٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ   ۗ   أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” 

(Q.S. Al An’am : 32)

Malam ini aku terbangun dengan banyak pertanyaan mengenai ajalku.

Jikalau pada akhirnya aku menemuinya, sudah siap kah aku? Sudah siap kah bekal yang kusiapkan nantinya untuk akhirat? Sudah cukupkah bekal yang kusiapkan untuk aku pulang kembali ke kampung akhirat ku? Surga atau neraka yang akan menjadi tujuanku? Dan apakah cukup kalimat-kalimat pujian dan pengampunan kusematkan kepada Allah Swt sang pencipta? 

Waktu terlewat. 

Lupa taubat meski banyak nikmat.

Berapa tahun lagi akan terlewat?

Sudah berapa maksiat?

Hidup sungguh bukan main-main. Begitu ruginya kalau tidak digunakan sebaik mungkin. 

Pun begitu. Tiket ke surga tidaklah murah. Hanya karena rahmat Allah SWT kita dapat memperolehnya. Takwa kuncinya. Takwa kepada Allah SWT.

Bukan sekedar menjadi muslim. Bukan sekedar iman. Tapi haruslah yang bertakwa.

Aku tak akan pernah tau kapan ajal akan menjemputku. Tak tahu pula bagaimana keadaanku di detik detik terakhirku. Tapi ketika ajal datang aku ingin hidupku tidak sia-sia. Aku ingin ketika aku pergi meninggalkan dunia, amalan kebaikanku lebih banyak daripada keburukankh. Aku ingin pergi menghadapNya dengan kerinduan, bukanlah ketakutan.

Tentang Mencari Rezeki

​Lagi-lagi aku dibuat kagum olehnya, ia yang tak lain ibuku. Malam ini kami berbincang-bincang tentang apapun, dari hulu ke hilir, dari a sampai z, dari perbincangan ringan yang kurang penting bila kubahas disini hingga perbincangan yang bagiku benar-benar bermanfaat. Salah satunya membahas soal rezeki. Sebuah ungkapan muncul dari mulut ibuku. Sederhana namun benar.

“Ada dua hal yang harus dimiliki oleh manusia ketika mencari rezeki, yaitu iman dan ilmu.”

Mengapa iman?

Iman kita butuhkan sebagai sandaran dalam kondisi apa pun, baik itu senang maupun sedih, berkecukupan maupun pas pasan. Dengan iman, kita tidak mudah untuk berputus asa ketika usaha yang kita rintis kurang menghasilkan, karena kita percaya Allah telah merencanakan jalan yang terbaik untuk kita untuk memperoleh rezeki. Tak perlu resah, karena rezeki telah Allah atur sedemikian rupa dengan jalan yang tak disangka.

Bagai seekor cicak dan nyamuk, begitu ibuku mengumpamakannya. Cicak hidup di dinding-dinding rumah. Ia hanya bisa merayap, tak bisa berjalan, tak berlari, apalagi terbang. Namun makanan cicak adalah nyamuk, yang kita tahu ia dapat terbang kesana kemari dengan gesit. Bagaimana bisa cicak yang hanya bisa merayap memakan nyamuk yang bisa terbang? Dan bayangkan saja, bagaimana sabarnya cicak menunggu nyamuk-nyamuk lewat mendekati. Itupun bila ada nyamuk. Bagaimana bila tidak ada nyamuk yang lewat dan akhirnya cicak-cicak kelaparan? Memang sepertinya susah sekali, namun bukan berarti tidak mungkin. Allah telah mengatur rezeki tiap-tiap mahlukNya termasuk hewan cicak sekalipun. Apalagi manusia. Percayalah bahwa rezeki itu sudah Allah atur, sehingga bila usaha yang kita jalani kurang sesuai dengan harapan, tetaplah bersandar kepada Allah karena hanya kepada Ia kita mengadu, bersandar dan memohon pertolongan.

Mengapa ilmu?

Ilmu dibutuhkan karena dengan ilmu kita dimudahkan dalam mencari rezeki. Hasil yang didapat akan oleh mereka yang berilmu tentunya lebih memuaskan dibandingkan dengan mereka yang sedikit ilmunya. Dengan ilmu kita memperluas wawasan kita, bisa itu bagaimana cara mengelola, cara memproduksi, ataupun cara memasarkan. Pandangan kita terhadap sesuatu juga akan lebih luas sehingga nantinya dapat mempermudah usaha kita.

وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ  ۚ  وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ  ۥۤ  ۚ  إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمۡرِهِۦ  ۚ  قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا 
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(Qs At – Talaq Ayat 2)

May 26, 2015

*

Sebenarnya tulisan ini saya copas dari blog saya yang lain yang sifatnya lebih pribadi. Tapi, sepertinya mulai sekarang saya pindahkan saja tulisan-tulisan saya yang di blog itu ke blog ini. Biar gak bingung kalo pengen baca-baca postingan sendiri melipirnya ke blog yang mana. 😁 Agak narsis ya baca tulisan sendiri, tapi gak papa lah. Kadang biar jadi bahan renungan ato time traveling lewat curcolan sendiri. 

Auk ah. See you.

Sakura Park and Bamboo Wood

Around eight years ago, I traveled to Surabaya to visit my cousin. She was a college student back then and still lived in a boarding house. She didn’t take me to many places but Suramadu bridge and some food courts. Some nights, she drove me around the city. I was happy but none of these actually really attracted me. I wasn’t fully impressed with Surabaya. Seldom I found green area in this city. It didn’t attract my eyes.

However, Surabaya has changed. Not entirely, but there are some significant changes for sure compared to my previous visit. When I traveled back some months ago, I saw more greeny parks everywhere provided with playground corners for children. It attracted my eyes as I am fond of plants and flowers. It’s always refreshing to see them. So, one of my request to Intan was to take me to one of these parks. Then she took me to Sakura park, the nearest park from her boarding house.

*

Sakura park is located in Kaliputih Sukolilo, Surabaya, near with the famous campus area, such as ITS. The park is quite wide, since it has 8 hectares though at the moment only around two hectares have been occupied. Hence, many flowers and plants are planted neatly according to the species. The vibrant colors of the flowers attract the butterflies to come over which make the park look beautiful. Then, there are jogging tracks and benches too in the middle of the park to take a rest. However, when I was there, I think the benches available were too few considering its wide. On the other side of the park, there are many bamboos planted neatly in line which people often called it bamboo wood. The bamboos are mostly up straight and tall, similar with the bamboos from Japan, I think.

Surprisingly, before 2004, the area of Sakura park and Bamboo wood used to be used as the garbage dump. Then in 2004, the garbage dump was relocated to Benowo thus the area was emptied. Until in 2013, the mayor of Surabaya, ibu Risma, has developed the area into Sakura park and Bamboo wood in order to decrease air pollution and also to make it as a public recreation that people can enjoy.

closer look of the flowers

my friend, Intan

strolling around

 what is it? I don’t know 😅

in the bamboo wood

Seeing these changes, I can’t help myself feeling proud of the government of Surabaya, bu Risma as the mayor especially. I hope more leaders in this country like her, or like bapak Ridwan Kamil 😆. They do great job as the mayors, wholeheartedly.👍

Ticket:

Best time to visit : 

not at noon I suppose. It’s hot!

Penyampaian Hati

Hati akan selalu tersampaikan, namun masing-masing dari kita memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa dalam hati. 

Aku.. terasa lebih mudah bagiku menuliskan apa yang kurasa dalam bentuk kata per kata. Tapi tidak dengan lisan. Beku lidahku, kering tenggorokanku. Hanya hatiku dan pemilik hati yang tahu.

Lain aku, lain mereka

Mereka, ada yang pandai dengan lisan tapi tidak dengan tulisan. Mereka, ada yang pandai dengan lisan juga dengan tulisan. Semacam kelebihan. Tapi ada juga yang seperti mereka, tidak pandai dalam lisan dan tulisan tapi justru pandai dengan anggota badan. Salah? Tidak bagiku. Asal ikhlas, tidak ada yang salah dengan penyampaian hati. Hanya mereka dan pemilik hati yang tahu sedalam mana hati ingin mengadu.

Deep down in the sea, there lies a heart you never see. 

Deep down in the sea, there lives a thousand of fish to tell you a story.

Some minutes ago I cried, some minutes forward I smile

Some minutes ago I cried. My eyes were a bit watery. I heard a child was crying, my neighbor. My room is next to my neighbor’s living room. They are separated with just one meter of tiny path so that sometimes I could overhear any form of sound from my neighbor’s living room, including the sounds of a crying child.

Continue reading