Hidup dan ajal

​وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٌ وَلَهۡوٌ‌   ۖ   وَلَلدَّارُ ٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ   ۗ   أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” 

(Q.S. Al An’am : 32)

Malam ini aku terbangun dengan banyak pertanyaan mengenai ajalku.

Jikalau pada akhirnya aku menemuinya, sudah siap kah aku? Sudah siap kah bekal yang kusiapkan nantinya untuk akhirat? Sudah cukupkah bekal yang kusiapkan untuk aku pulang kembali ke kampung akhirat ku? Surga atau neraka yang akan menjadi tujuanku? Dan apakah cukup kalimat-kalimat pujian dan pengampunan kusematkan kepada Allah Swt sang pencipta? 

Waktu terlewat. 

Lupa taubat meski banyak nikmat.

Berapa tahun lagi akan terlewat?

Sudah berapa maksiat?

Hidup sungguh bukan main-main. Begitu ruginya kalau tidak digunakan sebaik mungkin. 

Pun begitu. Tiket ke surga tidaklah murah. Hanya karena rahmat Allah SWT kita dapat memperolehnya. Takwa kuncinya. Takwa kepada Allah SWT.

Bukan sekedar menjadi muslim. Bukan sekedar iman. Tapi haruslah yang bertakwa.

Aku tak akan pernah tau kapan ajal akan menjemputku. Tak tahu pula bagaimana keadaanku di detik detik terakhirku. Tapi ketika ajal datang aku ingin hidupku tidak sia-sia. Aku ingin ketika aku pergi meninggalkan dunia, amalan kebaikanku lebih banyak daripada keburukankh. Aku ingin pergi menghadapNya dengan kerinduan, bukanlah ketakutan.

Advertisements